Sepele sih, cuma ucapan semangat dari Mas Aderaprabu Lantip Trengginas, tapi efeknya ibarat bensin pertamax :-P
Bening tanpa keruh.
Berombak namun menenangkan.
Teduh namun mencerahkan.
Terik namun mendamaikan.
Saya, kamu.
Pernah terluka oleh tangan tak berjiwa.
Ada garis horizontal antara tiga rasa.
Satu selebrasi,
Satu euforia,
Satu bendungan asa.
Dua pasang mata berseri
Dan satu pasang mata memendam mimpi yang mulai ia pahami sebagai ketidakpentingan perasaan.
Pagi, terik, senja, petang.
Berpaling?
Bukan, hanya menjadi pemimpi yang mencintai kenyataan.
Benci?
Bukan,
Kecewa?
Kurang tepat,
Lalu?
Kebas.
Karena bias dan tidak tegas.
Kini?
Lagi-lagi bias.
Membendung asa, merajut rindu.
Mudahkah?
Setahun kemarin.
Satu kata, jutaan makna, bermilyar cinta dan kasih yang tak terhingga. Ibu.
Percaya atau tidak, saya baru memahami bahwa definisi IBU adalah orang tua perempuan yang melahirkan anaknya ketika saya berusia lima tahun memasuki taman kanak-kanak. Di mata saya ibu adalah teman, ketika saya balita ibu menamani saya bermain, makan, belajar, hingga mengajak berbelanja di pasar.
Ibu bukan wanita karir, ia mengabdikan dirinya sebagai Ibu rumah tangga. Tapi justru saya malah berpikir bahwa tugas dari ibu rumah tangga lebih berat dari seorang wanita karir. Bisa dikatakan ibu rumah tangga adalah karir, hasil karyanya? Anak yang terdidik dan suami yang terurus.
Ibu melahirkan anak keduanya yang ternyata tuna rungu. See? Cobaan untuk wanita hebat seperti dirinya tidak pernah ringan. Alhasil, ibu adalah terapis dari seorang anak tuna rungu. Mengajarkan bagaimana berbicara, melatih kemandirian, memupuk percaya diri, dan belum pernah saya mendengar ibu mengeluhkan tentang kelelahan yang dialaminya.
Ibu adalah master chef juara pertama bagi keluarga kami. Semua masakan di tangannya menjadi enak. Dan masakannya yang rasanya paling juara adalah soto ayam bertabur keripik kentang.
Ibu adalah perawat terbaik kami, masih ingat saya dipaksa meminum jus cacing ketika saya tifus. Lima kali terjangkit tifus dan lima kali pula ibu merawat saya dengan telaten, memastikan saya tidak banyak bergerak, dan menasehati saya dengan galak. “Tifus keenam kali, urusannya bukan dengan dokter, tapi dengan penggali kuburan.” Ibu saya memang pedas berkata-kata, tegas, keras, dan cenderung galak. Jangan harap akan diberi belas kasihan jika merengek. Tidak bisa memanja atau saya sering menyebutnya manya-menye memble.
“Lebih baik siap hidup menderita, agar kamu siap hidup bahagia”
“Dunia itu bakal keras kalau kamu lembek! Dan akan melunak jika kamu mau berusaha keras”
“Buah dari Sabar itu manis, tapi buah dari syukur jauh lebih manis”
“Mudahkan urusan orang lain, supaya urusan kamu dimudahkan Allah teh”
Itu kata-kata yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Dan masih banyak kata-kata yangsebelum Mario Teguh beredar di TV pun ibu sering mengucapkannya.
Ibu memang tidak mengikuti mata kuliah psikologi pendidikan dan bimbingan konseling. Tapi menurut saya, ibu adalah konselor yang menyelesaikan masalah tanpa masalah. Ada pribahasa di bahasa sunda “Herang caina, beunang laukna” begitu cara ibu bertindak menyelesaikan masalah.
Ibu seorang wanita yang gigih, menyelesaikan skripsi ketika perutnya membuncit, mengendarai sepeda motor sendiri dengan membawa lima rangkap skripsi. Kadang aku malu, aku yang ada di perutnya saat itu sering mengeluh dan berteriak-teriak di kamar ketika mengerjakan skripsi.
Ibu adalah wanita cantik tanpa make-up. Kulitnya bersih, meski sekarang mulai terlihat beberapa kerutan. Ya… usia setengah abadnya mulai berbicara. Tapi buatku, cantiknya tidak lekang oleh waktu. Beberapa teman SMP, SMA, bahkan teman kuliahnya selalu bilang “Ibumu cantik, mirip Andi Mariem Matalata si Mutiara Selatan.” Saya percaya, bagi saya ia primadona. Senyumnya meluluh-lantahkan semua penat yang saya punya.
Ibu wanita yang anggun namun tangguh. Berbeda dengan saya yang pecicilan dan tidak bisa diam, ibu adalah pemerhati segala hal. Pengingat yang handal dari setiap kejadian dan percakapan.
Ibu adalah guru terbaik yang saya punya. Guru berbagai macam mata pelajaran, termasuk pelajaran kecakapan hidup. Oh iya, saya dan kedua adik saya belajar sepeda dan sepeda motor diajarkan oleh ibu. Ya, ibu memang pemberani, dan selalu ingin anaknya menjadi pemberani.
Ibu adalah sumber inspirasi bagi saya, alasan saya bangkit ketika terjatuh, pelukan terhangat yang selalu menyambut ketika saya pulang, alasan saya tersenyum ketika menangis, telinga ter-ajaib yang siap mendengarkan cerita dan pengalaman yang saya dapatkan di luar rumah. Ya. . ibu memang “rumah” bagi saya.
“Kamu dan dua adikmu adalah investasi dunia dan akherat saya”
Seketika merinding ketika ibu mengatakan hal tersebut kepada saya. Investasi? Berarti ibu menganggap saya berharga. Bagi saya sebaliknya, ibulah yang membuat hidup saya berharga.
Ibu yang selalu mengirimkan SMS ata menelepon yang isinya “Lagi dimana teh? “ atau “Udah makan?”. Mungkin terdengar aneh ketika manusia seusia saya masih di SMS oleh ibunya seperti itu, mau menyebut saya anak mami? Silakan. It’s Free for you to judge me guys.
Tahukah kamu? Kenapa ibu selalu menganggap kami anak kecil? Karena cintanya dari dahulu sampai sekarang selalu sama, tidak pernah berubah sedikitpun.
Teruntuk wanita juaraku sepanjang masa, Ibu Nelly Yohana.
Agak menyebalkan ketika tiba-tiba diajak ngomong sama pria random di tukang martabak barusan.
“Neng, orang Sunda ya? cantik sih tapi orang sunda tuh matre ya? bisanya cuma dandan terus pake baju-baju bagus hasil belanja. Orang sunda itu nggak mau diajak susah, maunya hidup enak di tanahnya sendiri.”
Kemudian si pria itu meninggalkan saya yang sedang mengantri orderan martabak keju tanpa memberikan kesempatan pada saya untuk mengklarifikasi pernyataannya. Entah berapa orang terutama pria yang mempunyai anggapan negatif tentang wanita Sunda.
Mari Kita Bahas!
WANITA SUNDA BISANYA CUMA DANDAN
Sering ada pelesetan, Pasundan alias pada suka dandan. Okay, mungkin wanita sunda kebanyakan dianugrahi kulit yang mulus,putih,bersih. Kenapa? kalau dilihat dari makanan, orang sunda termasuk pelahap sayuran mentah. Thats why beberapa mempunyai kulit yang putih,bersih,mulus. so, ketika dipoles make-up dikit aja sudah terlihat menor.
WANITA SUNDA SENENGNYA PAKAI DAN BELANJA BAJU MAHAL
okay, tau kan kalau Bandung dijuluki paris van java? kenapa? karena jaman kolonial dulu Bandung adalah kota mode. Secara geografis, tanah pasundan berada di dataran tinggi. Dingin kan? Nah, ketika udara dingin orang mau pake coat, shawl, bahkan sepatu boot pun pas kan? Fashionnya kreatif karena dukungan cuaca. Perlu diketahui, ngga semua barang yang dipakai mahal loh. Trust me, di Bandung ada tempat beli baju 50ribu bisa dapet lima potong baju. Nah kan?
WANITA SUNDA BUKAN PEKERJA KERAS DAN CENGENG NGGAK MAU DIBAWA SUSAH
helo? udah berapa wanita sunda yang diwawancara? diobservasi? diteliti bahkan ditelusuri secara spesifik?
Sebenernya mungkin tulisan ini nggak akan dibaca sama pria random tadi. But please, tolong untuk tidak memandang sebagian untuk seluruh.
Allah saja tidak pernah mengkotak-kotakkan hamba-Nya kan?
Kita satu Indonesia kan?
so, stop stereotipe negatif ya?
:-)
*ditulis sambil menunggu antrian martabak keju
I have died everyday waiting for you. Darlin’ don’t be afraid I have loved you for a thousand years. I’ll love you for a thousand more
My sweetiest moment on 1st October
Kamu kadang seperti fajar, mengajakku terbangun dari lelap kelelahanku. Menarik selimutku serta mengajak berlari mengitari track mimpi yang kupunya, memacu laju darah dengan menantang riak ombak. Kamu menyuruhku menunjuk satu persatu titik cakrawala, katamu itu perpaduan antara dua dimensi, langit dan laut. Kamu bilang itu kita.
Tapi pasir yang menyelinap di rongga jariku menggelitik, lalu berbisik. “Semuanya hanya fatamorgana, lanjutkan mimpi di tidur siangmu”